Monday, 7 April 2014

Perumpamaan Dua Pembangun



Dua Arsitek

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu...Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannyam ia sama dengan orang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.
(Matius 7:24 & 26)


Rounded Rectangle: Rumah-rumah di jalur Gaza sampai Askelon terbuat dari lumpur dan dibangun cukup jauh dari pergeseran perubahan arah air yang bisa terjadi secara tiba-tiba. Sedangkan di padang gurun Negeb selama musim dingin sungai kecil yang kering tiba-tiba terisi air dan menyapu bersih orang Badui disertai kehilangan nyawa dan ternak.
E. F. E. Bishop, Jesus of Palestine (London: Lutterworth Press, 1955).

Pada zaman Israel dahulu, Yesus seringkali menyaksikan dan mengalami hujan lebat yang datang secara tiba-tiba disebabkan oleh dasar sungai yang kering dan berubah menjadi aliran air sungai yang sangat deras. Fenomena alam seperti itu sudah biasa terjadi di Israel, karena cuaca dapat berubah dengan cepat dan kadang-kadang merubah daratan secara drastis. Pada zaman Yesus, rumah-rumah di pedesaan biasanya dibangun dari lumpur yang mengeras. Pencuri bisa melubangi tembok rumah seperti ini (Matius 6:19). Ketika Yesus sedang mengajar di sebuah rumah juga, empat orang melubangi atap rumah supaya mereka bisa menurunkan temannya yang lumpuh (Markus 2:3-4). Apabila ingin mendapatkan kenyamanan, si pemilik rumah harus membangun rumahnya jauh dari aliran air.
Seorang tukang bangunan yang bodoh akan membangun rumahnya seperti mendirikan sebuah tenda. Tidak terpikir olehnya bahwa sebuah rumah seharusnya dibangun dengan struktur yang kokoh dan permanen. Dia membangun rumahnya di atas pasir, mungkin dengan alasan jarak yang dekat dengan aliran air. Selama cuaca tetap baik dan langit berwarna biru, pemilik rumah tidak takut. Sampai awan sudah mulai terkumpul, hujan turun, aliran air naik, maka rumah itu akan rubuh dengan kerasnya.
Seorang arsitek yang bijaksana akan membangun rumahnya dengan pondasi yang kokoh dan permanen. Ia mempertimbangkan perubahan geografis dan klimatologis yang bisa terjadi. Ia tidak pernah kuatir terhadap perubahan cuaca yang bisa berubah secara tiba-tiba dan drastis. Ia hanya menikmati fenomena alam yang terjadi di dalam rumah yang dibangun di atas pondasi yang kokoh tersebut.
Pembaca terkasih, demikianlah melalui perumpamaan itu Yesus menganalogikan sikap kita sebagai pendengar firman Tuhan. Yesus menginginkan kita bukan hanya sebagai pendengar tetapi sebagai pelaku firman Tuhan. Hanya mendengarkan perkataan Yesus saja tidak cukup untuk membangun rumah iman di atas pondasi yang kokoh. Barangsiapa mendengarkan Yesus tetapi tidak melakukannya, ia akan mengalami keruntuhan yang hebat. Dia tidak mempunyai waktu untuk menggali dan meletakkan pondasi. Rumahnya selesai dalam waktu yang singkat namun sayang hanya dapat dinikmati dalam waktu yang singkat juga sebelum waktu kesukaran dan badai kehidupan datang menyerang.
Barangsiapa yang bijaksana pasti mau mendengar dengan serius dan mengatur hidupnya sesuai dengan perkataan Yesus. Ia membangun rumah imannya di atas dasar Yesus dan dapat bertahan menghadapi badai kehidupan. Dia tetap aman dan menang karena ia meletakkan dasar yang telah oleh Yesus Kristus (1 Kor. 3:10-11). Marilah kita menjadi “arsitek yang bijaksana” yang membangun rumah iman kita di atas dasar Yesus Kristus dengan mendengarkan dan melakukan firman Tuhan.

3 comments: