Dua Arsitek
“Setiap orang
yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang
bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu...Tetapi setiap orang yang
mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannyam ia sama dengan orang bodoh,
yang mendirikan rumahnya di atas pasir.”
(Matius 7:24 & 26)
Pada
zaman Israel dahulu, Yesus seringkali menyaksikan dan mengalami hujan lebat
yang datang secara tiba-tiba disebabkan oleh dasar sungai yang kering dan
berubah menjadi aliran air sungai yang sangat deras. Fenomena alam seperti itu
sudah biasa terjadi di Israel, karena cuaca dapat berubah dengan cepat dan
kadang-kadang merubah daratan secara drastis. Pada zaman Yesus, rumah-rumah di
pedesaan biasanya dibangun dari lumpur yang mengeras. Pencuri bisa melubangi
tembok rumah seperti ini (Matius 6:19). Ketika Yesus sedang mengajar di sebuah
rumah juga, empat orang melubangi atap rumah supaya mereka bisa menurunkan
temannya yang lumpuh (Markus 2:3-4). Apabila ingin mendapatkan kenyamanan, si
pemilik rumah harus membangun rumahnya jauh dari aliran air.
Seorang tukang bangunan yang bodoh akan
membangun rumahnya seperti mendirikan sebuah tenda. Tidak terpikir olehnya
bahwa sebuah rumah seharusnya dibangun dengan struktur yang kokoh dan permanen.
Dia membangun rumahnya di atas pasir, mungkin dengan alasan jarak yang dekat
dengan aliran air. Selama cuaca tetap baik dan langit berwarna biru, pemilik
rumah tidak takut. Sampai awan sudah mulai terkumpul, hujan turun, aliran air
naik, maka rumah itu akan rubuh dengan kerasnya.
Seorang arsitek yang bijaksana akan membangun
rumahnya dengan pondasi yang kokoh dan permanen. Ia mempertimbangkan perubahan
geografis dan klimatologis yang bisa terjadi. Ia tidak pernah kuatir terhadap
perubahan cuaca yang bisa berubah secara tiba-tiba dan drastis. Ia hanya
menikmati fenomena alam yang terjadi di dalam rumah yang dibangun di atas
pondasi yang kokoh tersebut.
Pembaca terkasih, demikianlah melalui
perumpamaan itu Yesus menganalogikan sikap kita sebagai pendengar firman Tuhan.
Yesus menginginkan kita bukan hanya sebagai pendengar tetapi sebagai pelaku
firman Tuhan. Hanya mendengarkan perkataan Yesus saja tidak cukup untuk
membangun rumah iman di atas pondasi yang kokoh. Barangsiapa mendengarkan Yesus
tetapi tidak melakukannya, ia akan mengalami keruntuhan yang hebat. Dia tidak
mempunyai waktu untuk menggali dan meletakkan pondasi. Rumahnya selesai dalam
waktu yang singkat namun sayang hanya dapat dinikmati dalam waktu yang singkat
juga sebelum waktu kesukaran dan badai kehidupan datang menyerang.
Barangsiapa yang bijaksana pasti mau
mendengar dengan serius dan mengatur hidupnya sesuai dengan perkataan Yesus. Ia
membangun rumah imannya di atas dasar Yesus dan dapat bertahan menghadapi badai
kehidupan. Dia tetap aman dan menang karena ia meletakkan dasar yang telah oleh
Yesus Kristus (1 Kor. 3:10-11). Marilah kita menjadi “arsitek yang bijaksana”
yang membangun rumah iman kita di atas dasar Yesus Kristus dengan mendengarkan
dan melakukan firman Tuhan.
Let's become a wise architect...Will you??
ReplyDeleteYes
ReplyDeleteAmin
ReplyDelete